Selasa, 25 Mei 2010

Pasar Besar Malang

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Pasar Besar Malang (PBM) pada tanggal 12 Mei 2010 pada pukul 11.00 WIB adalah sebagai berikut:

1. Letak dan Keadaan Pasar Besar Malang
Dari segi letak Pasar Besar Malang (PBM) terletak di dekat pusat kota. Ini bisa dijadikan salah satu faktor pendukungdi dalam menarik calon pembeli. Pasar tradisional ini terletak di lantai I yaitu tepat di bawah Pasar Modern Matahari. Tempatnya juga cukup luas dibanding dengan pasar yang lainnya. Terdiri dari beberapa bedak atau kios-kios. Pemilik bedak ataupun kios-kios harus membayar sewa tempat, retribusi dan iuran lainnya. Namun, dalam kenyataannya di PBM masih banyak jalanan di dalam pasar yang rusak ataupun lubang. Ada juga jalanan yang masih berupa tanah. Apabila jalanan di pasar itu terkena air, itu membuat jalanan menjadi licin dan becek. Padahal para pedagang sudah membayar retribusi untuk perbaikan jalan. Tetapi, masih banyak jalan yang belum diperbaiki.Di pasar tersebut, terdapat berbagai macam penjual. Contohnya penjual ikan segar, daging, sayur, ayam potong, dan bumbu-bumbu dapur. Terkadang ini menimbulkan bau yang tidak sedap. Bahkan sisa-sisa sayur ataupun sampah berada di pojok-pojok sekitar penjual tersebut. Belum lagi warung-warung nasi yang berada di dalam pasar. Mungkin bagi sebagian kosumen yang belum terbiasa dengan keadaan seperrti itu menjadi ragu untuk makan di warung tersebut dengan pendapat kurang terjamin kebersihannya.

Ini sangat berbeda jauh dengan keadaan pasar modern Matahari yang terletak di lantai III. Tempatnya tertata rapi, terdapat AC, lantainya juga tidak ada yang lubang. Di pasar modern Matahari ini sangat memperhatikan kenyamanan konsumen masuk di pasar modern itu, ada seorang karyawan atau petugas yang siap menyambut kita dengan sapaan “Selamat Datang” atau “Selamat siang.” Dari segi penataan pasar modern Matahari membagi antara baju, sepatu, barag rumah tangga, dan supermarket mempunyai tempat-tempat sendiri-sendiri. Untuk makanan, sayur, buah berada di supermarket dan itu terletak jauh dari bahan sandang. Misalnya barang-barang kebutuhan sandang terletak di depan, supermarketnya berada di belakang. Di pasar tradisional sangat berbeda, pertama kita masuk kita akan disambut dengan pertanyaan dari para penjual “Mau cari apa, Mbak?” atau “Mampir Mbak, ini ada barang murah, lihat-lihat dulu juga gak apa-apa.” Ini adalah salah satu cara bagaimana penjual di pasar tradisional untuk menarik pembeli. Karena barang yang dijual relatif sama dan banyak pesaingnya, para penjual harus aktif berbicara untuk menarik konsumen.
Di lantai II juga tidak jauh berbeda dengan lantai I, hanya saja di lantai II menjual berbagai macam tas, sepatu, sandal, baju, busana-busana. Di lantai II juga menjual barang dagangannya. Terkadang kita juga lngusng dihampiri para penjual dengan membawa barang dagangannya. Misalnya “Mbak, gantungan bajunya, beli Mbak, murah.”

2.Pedagang di Pasar Besar Malang
Di pasar tradisional ini para pedangang dan konsumen membangun interaksi melalui tawar-menawar. Tawar-menawar di pasar tradisional sudah menjadi sutu kebiasaan atau ciri khas dari pasar tradisonal. Di sini para pembeli dapat menawar suatu barnag sesuai dengan keinginannya. Para penjual bisa mematok harga tinggi sehingga nanti terjadi tawar-menawar. Penjual mematok harga tinggi dengan maksud ketika barang tersebut ditawar paling tidak harga masih standard dan penjual masih memperoleh keuntungan.
Suatu contoh pada penjual jambu merah, awalnya penjual menawarkan Rp 10.000/kg. Lalu pembeli menawar “Rp 7000/kg, Pak”
“Gak bisa Mbak, sampeyan tambahi” kata penjual jambu itu.
“Gak wis Rp 7000” kata pembeli.
Lalu pembeli tersebut meninggalkan penjual karena tidak terjadi kesepakatan. Tetapi, ketika pembeli meninggalkan dan hanya beberapa langkah saja “Yo wis, Mbak Rp 7000/kg, gawe pelaris” ujar penjual jambu merah itu.
Akhirnya terjadi kesepakatan harga, padahal penjual dengan harga segitu sudah memperoleh keuntungan. Terkadang penjual ingin mendapatkan keuntungan yang lebih. Ketika pembeli menawar dan tidak sesuai dengan keinginan penjual, dan pembeli tersebut meninggalkannya, penjual tersebut akan membiarkannya. Penjual tersebut beranggapan masih ada pembeli yang lain yang mau membeli barang dagangannya.

Di pasar tradisional, selain ada tawar menawar ada juga istilah nyaur ngamek. Dalam suatu contoh ada seorang pembeli “Bu, ada barang ini?”
Lalu penjual A menjawab “Ada, Mbak.”
Meskipun penjual A tidak memiliki barang tersebut di akan berusaha mencari ke penjual lain. Dengan bermodalkan kepercayaan penjual A mengambil barang tanpa membayar tunai kepada penjual B. Setelah terjadi transaksi, hasil penjualan tersebut akan dibagi dua dengan penjual B. Keuntungan tersebut dimaksudkan sebagai upah karaena penjual A sudah mencarikan pembeli. Meskipun keuntungannya harus dibagi dua dengan penjual B, paling tidak barang dagangan penjual B laku dan masih bisa mencari keuntungan dari pembeli yang lainnya.
Kedaan ini juga berbeda dengan pasar modern Matahari. Para pembeli atau konsumen tidak perlu susah-susah untuk menawar karena harga barang sudah terpasang di barang tersebut. Para pembeli juga dengan mudah memilih barang sesuai harag yang diinginkan. Jika barang tersebut terlalu mahal maka pembeli juga tidak akan mengambil barang itu. Tetapi, jika barang itu harganya murah dan sesuai dengan keinginan pembeli maka, pembeli akan mengambil barang tersebut dan langsung membayar di kassir. Pembeli hanya dipantau dengan SPG di mana yang siap juga melayani pembeli jika pembeli membutuhkan sesuatu. Pembeli juga merasa privacy juga akan terjaga dan tidak perlu banyak membuang waktu untuk berkeliling mencari barang.

Di pasar tradisional masih ada juga yang memperhatikan kenyamanan pembeli. Seperti warung lama milik H. Ridwan. Meskipun terletak di lantai I tetapi warung ini sangat menjaga kebersihan. Dari segi tempat warung ini terletak agak jauh dari pedagang ikan, sayur atau buah. Sehingga warung ini tehindar dari bau yang tidak sedap. Warung ini juga bersih, memang harga makanannya juga agak mahal tetapi, terjamin kebersihannya.
Ada juga toko kue “Kanugrahan”, di toko kue ini terkenal menjual kue-kue atau jajanan pasar yang enak. Meskipun harganya agak mahal per potong kue, tetapi para konsumen dipuaskan dengn bentuk dan rasanya yang enak dan menarik.
Di pedgang pecah belah ada toko “Santoso” yang juga ramai dikunjungi pembeli. Karena barang yang dijual lengkap dan sudah terkenal di kalangan pembeli maka toko ini ramai dikunjungi pembeli. Harga di “Santoso” ini juga sudah dikasih lbel dan tidak bisa ditawar. Suatu “nama” ini juga bisa mempengaruhi pembelian konsumen. Terkadang pembeli lebih percaya karena “namanya” sudah terkenal di masyarakat. Sehingga para pembeli tidak perlu susah-susah mencari barang dan berkeliling mencari tempat yang dituju. Kelengkapan suatu toko terhadap barang yang dijual serta kualitas barang yang dijual juga menjadi bahan pertimbangan para konsumen.

3.Pedagang Kaki Lima di Pasar Besar Malang
Selain para pedagang yang ada di dalam pasar ada juga para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berada di sekitar pasar tradisional ini. Biasanya PKL ini berjualan di pintu masuk pasar, ada juga yang berjualan di emperan pasar. Barang yang dijual hampir sama dengan para pedagang yang berada di dalam pasar tradisional. Contoh barang yang dijual adalah buah, sayur, kue, dan sebagainya. Selain di luar pasar atau di dekat pintu masuk, di dalam pasar juga banyak terdapat PKL. Biasanya mereka berjualan di depan kios atau pojok-pojok bedak di dalam pasar. Ini membuat jalanan di dalam pasar semakin sempit karena adanya PKL ini. Para PKL ini juga tidak kalah aktif di dalam menawarkan barang dagangannya.

Di pintu masuk merupakan suatu tempat yang strategis di mana orang banyak berlalu lalang. Ini dimanfaatkan PKL sebagai tempat berjualan. Mereka yang aktif terkadang juga bisa menarik pembeli, dengan begitu pembeli tidak perlu lagi masuk ke dalam pasar untuk berkeliling karena di depan sudah tersedia barang yang diinginkan.
Di tempat parkir PKL ini juga berjualan, biasanya kebanyakan dari mereka adalah penjual makanan. Seperti bakso, tahu campur, mie ayam, ayam goreng, dan sebagainya. Dalam kenyataannya mereka juga banyak dikunjungi pembeli. Selin harganya murah tempatnya juga mendukung berada di luar pasar yang tidak diramaikan dengan suasana di dalam pasar. Mungkin keramaian terdengar karena suara kendaraan bermotor yang lalu lalang di sekitar jalan raya. Di tempat parkir juga ada mobil pick up yang mana di gunakan untuk berjualan atau biasa disebut dengan mlijo. Para pedagang ini menjual barang yang sama. Contohnya sayur-sayuran, bumbu-bumbu masak, tempe, tahu, cabe, dan sebagainy. Para PKL ini juga menjadi pesaing para pedagang para tradisional. Mereka yang pintar memanfaatkan tempat-tempat yang ada untuk dijadikan tempat berjualan, memberi keuntungan sendiri terhadap PKL ini.